Senin, 26 Desember 2011

Susah Susah Sulit

Baru baru ini aku sedang berusaha untuk menemukan beberapa teman lamaku yang ntah dimana keberdaannya. Karena sekitar 3 tahun yang lalu kami berpisah (maaf kalo ada kesalahan karena aku gak pinter mtkaitame) itu sejenis pelajaran yang membuat ke dengkul aku kelilipan, tepatnya saat aku SD sekitar umur anak SD umumnya lah.
Saat berpisah pun, tidak ada hal yang mengesankan untuk di ingat, sebenernya aku yang memisahkan diri dengan mereka.


Dulu aku bersekolah, di SD 17 pendopo, kabupaten muara enim (kalo gak salah) aku menyelesaikan sekolahku, saat itu aku di tendang (red: disarankan) sama ayah aku untuk melanjutkan SMP di lahat yang lebih baik.
Sewaktu SMP aku tinggal bersama nenek, orang tua dan babon homo (baca: adekku) aku masih tinggal di pendopo, karena ayah bekerja disana.Ketika aku liburan dengan terpaksa aku harus ke pendopo. Perjalanan dari lahat ke pendopo sekitar 3 jam, itu pun aku harus dua kali nyambung mobil. Bayangkan anak seimut dan selucu kayak aku di biarkan pergi sejauh dan selama itu. Tapi itu adalah sebuah pengalaman berharga yang secara tidak langsung di ajarkan sama ayah. Saat kelas 3 SMP orangtua dan babon homo, dan berakhir sudah penderitaan aku untuk pulang pergi lahat pendopo.

Udah dulu cerita masa lalunya, lanjut lagi soal teman-teman SD aku itu. Untuk menemukan mereka butuh berabad abad untuk melacaknya (mulai lebaynya). Dari tong sampah, TPA, panti jompo, panti pijat plus plus, sampai ke apotik.

Saat SD dulu aku termasuk siswa yang cukup (ehem) mumpuni untuk di pijak-pijak (nah loh..) maksudnya pinter (menurut felling aku). Pendek, kurus, item, kecil, ingusan, ngisep aibon, kayak anak gak di urus itulah aku dulu, tapi orangtua aku sangat memperhatikan aku, mungkin ini udah di takdirkan keg gini, sekarang pun masih ingusan, ngisep aibon, dan kadang keluar busa di hidung (awas ada orang rabies).

Satu per satu aku udah menemukan mereka, dan untungnya mereka masih mengenali aku. Pencariannya di jejaring social pesbuk, tadi aku menerima pesan dari salah satu kawan aku itu, balasnya adalah "yaa aku inget sama kau, fadli yang KURUS itu kan" *nyesek* *gondok* *mau bunuh diri*. Ini anugerah atau musibah, koq dia bilang gitu, tapi kalo dia bilang "ya aku inget sama kau, fadli yang GANTENG, IMUT itu kan", aku malah tambah marah karena itu penghinaan banget.

Mereka sangat lah berbeda, aku terkejut sampe-sampe keselek laptop waktu aku liat foto mereka, jauh berbeda saat SD gak kayak cuma aku yang gak ada bedanya dari SD sampe sekarang, masih sering maenin upil.

Masalahnya sekarang aku banyak lupa dengan nama-nama mereka, hanya sebagian yang inget. Tapi semoga aku bisa bertemu dan menjalin silaturahmi lagi dengan mereka. Kalo untuk ketemu mungkin hal yang sulit untuk di wujudkan karena rata-rata kawan aku itu ada di palembang sedangkan aku di sebuah kota yang nan jauh di sana. Jika allah mengijinkan hal itu akan mudah terjadi. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar